Sabtu, 19 Juni 2010

feature

• Stright/spot News — berisi materi penting yang harus segera
dilaporkan kepada publik (sering pula disebut breaking news)
• News Feature — memanfaatkan materi penting pada spot news, umumnya
dengan memberikan unsur human/manusiawi di balik peristiwa yang hangat
terjadi atau dengan memberikan latarbelakang (konteks dan perspektif)
melalui interpretasi.
• Feature — bertujuan untuk menghibur melalui penggunaan materi yang
menarik tapi tidak selalu penting.

Dalam persaingan media yang kian ketat tak hanya antar media cetak
melainkan juga antara media cetak dengan televisi, straight/spot news
seringkali tak terlalu memuaskan. Spot news cenderung hanya berumur
sehari untuk kemudian dibuang, atau bahkan beberapa jam di televisi.
Spot news juga cenderung menekankan sekadar unsur elementer dalam
berita, namun melupakan background.

Kita memerlukan berita yang lebih dari itu untuk bisa bersaing. Kita
memerlukan news feature — perkawinan antara spot news dan feature.

Karena tradisi ini relatif baru, kita perlu terlebih dulu memahami apa
unsur-unsur dan
aspek mendasar dari feature.

Apakah feature?
Inilah batasan klasik mengenai feature: ”Cerita feature adalah
artikel yang kreatif, kadang kadang subyektif, yang terutama
dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca
tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan.”

Kreatifitas
Berbeda dari penulisan berita biasa, penulisan feature memungkinkan
reporter ”menciptakan” sebuah cerita.

Meskipun masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat — karangan
fiktif dan khayalan tidak boleh — reporter bisa mencari feature dalam
pikirannya, kemudian setelah mengadakan penelitian terhadap gagasannya
itu, ia menulis.

Subyektifitas
Beberapa feature ditulis dalam bentuk ”aku”, sehingga memungkinkan
reporter memasukkan emosi dan pikirannya sendiri. Meskipun banyak
reporter, yang dididik dalam reporting obyektif, hanya memakai teknik
ini bila tidak ada pilihan lain, hasilnya enak dibaca.

Tapi, reporter-reporter muda harus awas terhadap cara seperti itu.
Kesalahan umum pada reporter baru adalah kecenderungan untuk
menonjolkan diri sendiri lewat penulisan dengan gaya ”aku”.
Kebanyakan wartawan kawakan memakai pedoman begini: ”Kalau Anda bukan
tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda.”

Informatif
Feature, yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada
masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin
diabaikan dalam penulisan berita biasa di koran. Misalnya tentang
sebuah Museum atau Kebun Binatang yang terancam tutup.

Aspek informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam
bentuk-bentuk lain. Ada banyak feature yang enteng-enteng saja, tapi
bila berada di tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat
yang ampuh. Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk
menciptakan perubahan konstruktif.

Menghibur
Dalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi
suratkabar untuk bersaing dengan media elektronika.

Reporter suratkabar mengakui bahwa mereka tidak akan bisa
”mengalahkan” wartawan radio dan televisi untuk lebih dulu sampai ke
masyarakat. Wartawan radio dan TV bias mengudarakan cerita besar hanya
dalam beberapa menit setelah mereka tahu. Sementara itu wartawan koran
sadar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa
tahu sesuatu kejadian — setelah koran diantar.

Wartawan harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan saingannya, radio
dan TV, dengan cerita eksklusif. Tapi ia juga bisa membuat versi yang
lebih mendalam (in depth) mengenai cerita yang didengar pembacanya
dari radio.

Dengan patokan seperti ini dalam benaknya, reporter selalu mencari
feature, terhadap berita-berita yang paling hangat. Cerita feature
biasanya eksklusif, sehingga tidak ada kemungkinan dikalahkan oleh
radio dan TV atau koran lain.

Feature memberikan variasi terhadap berita-berita rutin seperti
pembunuhan, skandal, bencana dan pertentangan yang selalu menghiasi
kolom-kolom berita, feature bias membuat pembaca tertawa tertahan.

Seorang reporter bisa menulis ”cerita berwarna-warni” untuk
menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap
kasus, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan
kepadanya hal-hal yang baru dan segar.

Awet
Menurut seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk
bungkus kacang. Unsur berita yang semuanya penting luluh dalam waktu
24 jam. Berita mudah sekali ”punah”, tapi feature bisa disimpan
berhari, berminggu, atau berulan bulan. Koran-koran kecil sering
membuat simpanan ”naskah berlebih” – kebanyakan feature. Feature ini
diset dan disimpan di ruang tata muka, karena editor tahu bahwa nilai
cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu.

Dalam kacamata reporter, feature seperti itu mempunyai keuntungan
lain. Tekanan deadline jarang, sehingga ia bisa punya waktu cukup
untuk mengadakan riset secara cermat dan menulisnya kembali sampai
mempunyai mutu yang tertinggi.

Sebuah feature yang mendalam memerlukan waktu cukup. Profil seorang
kepala polisi mungkin baru bisa diperoleh setelah wawancara dengan
kawan-kawan sekerjanya, keluarga, musuh-musuhnya dan kepala polisi itu
sendiri. Diperlukan waktu juga untuk mengamati tabiat, reaksi terhadap
keadaan tertentu perwira itu.

Singkat kata, berbeda dengan berita, tulisan feature memberikan
penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting –
fakta-fakta yang mungkin merangsang emosi (menghibur, memunculkan
empati, disampil tetap tidak meninggalkan unsure informatifnya).
Karena penakanan itu, tulisan feature sering disebut kisah human
interest atau kisah yang berwarna (colourful).

Teknik penulisan feature
Jika dalam penulisan berita yang diutamakan ialah pengaturan
fakta-fakta, maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik
”mengisahkan sebuah cerita”. Memang itulah kunci perbedaan antara
berita ”keras” (spot news) dan feature. Penulis feature pada
hakikatnya adalah seorang yang berkisah.

Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia menghidupkan imajinasi
pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan
membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.

Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggunakan penulisan
jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat
efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi
kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos
aturan itu.

”Piramida terbalik” (susunan tulisan yang meletakkan
informasi-informasi pokok di bagian atas, dan informasi yang tidak
begitu penting di bagian bawah – hingga mudah untuk dibuang bila
tulisan itu perlu diperpendek) sering ditinggalkan. Terutama bila
urutan peristiwa sudah dengan sendirinya membentuk cerita yang baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar