Minggu, 07 Februari 2010

jejak kecil di kota yang kehujanan

Siang itu, di Jalan raya Padjajaran Bogor, tepatnya di atas jembatan penyebrangan depan Botani Square,

aku berteduh selagi menuju hujan reda. Dari atas sana aku melihat bocah-bocah kecil usia sekolah lalu lalang membawa payung besar bertebaran di pinggir-pinggir jalan.


Mereka berlari dengan cepat kearah pertokoan dan angkutan umun yang sedang berhenti untuk menawarkan payung yang mereka bawa kepada orang yang saat itu kebetulan tidak membawa payung.


Mereka mencoba mengais rupiah demi rupiah dari profesi dadakan yang sangat situasional itu. Entah apa yang ada di pikiran mereka, tetapi satu hal yang pasti, tidak seharusnya anak-anak seperti mereka berada ditempat itu dan melakukan pekerjaan seperti itu, mereka seharusnya mendapatkan hak seperti kebanyakan anak-anak lainnya untuk bersekolah, bermain dan belajar.


Tetapi itu bukan salah mereka, bukan salah orang tua mereka, bukan salah siapa-siapa, itu memang jalan yang harus mereka lalui, Kemiskinan dan Himpitan ekonomi yang melekat pada mereka merebut hak-hak kebebasan mereka, mereka terpaksa bekerja untuk membantu keuangan keluarga mereka, hanya untuk sesuap nasi yang belum tentu setiap hari mereka bisa menikmatinya. Mereka hanya berusaha untuk bertahan hidup. Meskipun tidak bisa dinafikan bahwa dalam hati mereka, mereka mendambakan kehidupan yang lebih layak, kehidupan yang bisa menjamin keberadaan mereka....


Tetapi dunia tetaplah Misteri....

Tetaplah melangkah wahai para bocah-bocah,,,,

Ketika hujan reda nanti,,,,,

Ada pelangi yang sangat indah menanti kalian....

tentang kamu 1

Banyak orang bercerita tentang kematian....


Tetapi aku lebih tertarik ketika dirimu berbicara tentang kehidupan....


Tentang mimpi-mimpi...


Yang menjadi parameter dari setiap tindakan rasional instrumental kita...


Banyak orang menutup matanya dari kenyataan.......


Tetapi aku lebih suka ketika matamu yang cantik terbuka untuk melihat kebenaran....


Tentang semua harapan.....


Yang membimbing kita menuju masa depan.....


Mengapa Tuhan mempertemukan kita dalam perputaran waktu......


Menitmu menjadi menitku, detiku menjadi detikmu


Mengalir dengan konstan.............


Dan aku hanya ingin....... bersama dirimu untuk melihat pelangi......


Dan kita harus bersabar...


Menunggu hujan reda.....